starting a new day

30 01 2010

Really grateful, that we are not created alone, at least with the activities with friends, or new gadget can put my mind on others. Do not want to run away from the fact, instead some of the advise really help me on having my sober.

It is really a weird world to start a new day





This Blog will continue

26 01 2010

I know I can’t find the perfect love in this crazy world… but

I decide to continue writing about my journey to find the true love in this blog.

 

Best Regards,

 

5036141770





After 2 years …

26 01 2010

It’s really painful, when you understand there is someone that take the one your love from your hand.

At the end… I should write it…

“I have decided whatever happened between us, I promise that I will not report him to his shepherd, since this is personal matter between you, me and him. I decide to forgive what had happened before. You can keep my words. It is your free will to choose whom you like or loved without any threatened. For I believe I also had learnt and still on learning, how to love perfectly in my imperfection and to forgive perfectly as God had forgive me perfectly.

Sorry for the Inconvenience, hurt heart and mistakes that I have done in my learning process.

So here I am, and in all we had passed through together, I feel NO regrets that I can ever be with the one and only woman I love.

For every moment, joy and cry, I am glad hat God had grant me times to be with you, the one I love and if there is any regrets, it is because I failed to understand, fill and love my lovely one completely





Terlanjur Cinta

24 02 2009

Waktu bergulir lambat
Merantai langkah perjalanan kita
Berjuta cerita terukir dalam
Menjadi sebuah dilema

Mengertikah engkau
Perasaanku tak terhapuskan

Malam menangis
Tetes embun membasahi mata hatiku
Mencoba bertahan di atas puing-puing
Cinta yang telah rapuh

Apa yang kugenggam
Tak mudah untuk aku lepaskan

Aku terlanjur cinta kepadamu
Dan telah kuberikan seluruh hatiku
Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan
Cintaku

Akupun tak mengerti yang terjadi
Apa salah dan kurangku padamu
Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan
Karena sekali cinta aku tetap cinta





Closing : akhir cerita cinta

29 10 2008

Jakarta, 29 Oktober 2009

Seharusnya ini adalah hari yang penting untuk kita berdua namun…

Pagi ini, ketika hujan masih mewarnai bumi, dan awan masih menyelimuti bumi… aku berjalan dalam rentang perjalanan yang terasa begitu panjang… suara disekelilingmu mengambil rupa suara hatiku…

Pagi ini, ketika akhirnya matahari mengintip di balik awan, menyirami bumi dan membuat gedung-gedung tinggi di kuningan saling menyapa melalui pantulan sinarnya yang terang…

… Pagi ini semua berjalan seperti biasa, hanya ketidakhadiran aku selama ini yang membuat moment-moment ini terasa begitu berbeda…

… mungkin ini adalah pagi yang khusus, ditengah hati yang perlahan-lahan mendingin …

… 30 hari sudah kulewati, dalam doa, tangisan dan syukur…

… kusadari ini bukanlah keputusan yang mudah yang harus kuambil …

… setelah melantunkan banyak doa, mendengarkan banyak masukan …

… setelah berjuang untuk menyakinkan untuk menemukan kedamaian di hati…

… setelah mendengarkan dunia berkata dan menyaksikan matinya asa di hati …

Maka selalu akan ada akhir dari sebuah cerita…

… mari kita pikirkan hal ini secara jernih…

… Ini yang aku lamunkan…

Tentang aku dan bukan tentang kita …

… rasa Cinta itu saja tidak cukup …

… tertutupi hatiku oleh perasaan bersalah …

… pernikahan bukanlah sesuatu hal yang mudah …

… pernikahan mempersatukan dua keluarga yang berbeda …

… dan hal inilah menjadi salah satu dasar penting yang aku pegang…

… setidaknya begitulah aku menyakinkannya …

… kuputuskan untuk tidak membawa engkau ke dalam mimpi-mimpiku…

… bukan karena aku tidak ingin memilikimu …

… hanya tidak semua dapat kita menangkan …

… satu hal yang kulempar jauh …

… dan itulah rasa egoku …

Tak kutanyakan lagi apakah kita mampu melaluinya …

… karena bukan hanya kita berdua yang akan mengalami pedih di hati …

… jika ada sesuatu yang harus disayangkan …

… maka sayangkanlah aku pernah mencintaimu …

Kuambil satu pilihan pahit dalam hidupku…

… yang pasti ini menyakiti engkau dan aku…

… pilihan ini bagaikan obat kanker yang menusuk tulang …

… disatu sisi dia membunuh banyak hal …

… disisi lain dia juga memberikan pengharapan …

Dan pengharapan inilah yang aku ambil

… biarkan ini mematikan perasaan kita …

… walaupun hati ini tak ingin …

… namun di sisi lain…

… biarlah hal ini membawa engkau dan aku…

… kepada pengharapan lain…

Untuk melihat dunia dengan mata yang berbeda

Untuk belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu

Untuk menatap masa depan dengan harapan yang baru

… Perih di hati …

Biarkanlah luka ini sembuh dengan berlalunya waktu…

Jangan kau lupakan aku…

Tapi jadikanlah aku pelajaran…

Tentang kebodohan orang yang tidak mau memperjuangkan cinta…

Terhadap orang-orang seperti aku, tidaklah layak ia mendapatkan cinta sejati sepertimu…

Tiada makan malam yang tidak akan berakhir…

Dan cerita ini pula akan menemukan akhir…

… Selamat jalan cinta …

… kuhanya bisa mencintaimu tanpa bisa memilikimu …

… dan doaku adalah agar engkau bisa melaluinya …

… hanya satu hal yang kutahu …

… cinta bisa mengambil begitu banyak rupa …

… tapi cinta sejati tidak akan pernah mati …

… ia hanya belajar menerima untuk mengambil bentuk lain dari mencintai …

… teruntuk untukmu, dalam tangisan dan air mata…

… TUHAN tolonglah kami masing-masing melangkah…

… amen…





Day 24 – 30 : Hari-hari tanpa menulis

28 10 2008

Jakarta, 28 Oktober 2008

Seminggu ini benar-benar sepi, pertemuan terakhir kita terasa begitu hambar… aku masih melihat api itu menyala di matamu yang penuh harap. Tetapi rupanya suara gaduh dunia membuatmu tertepiskan dari pikiranku…

Dalam satu kesempatan kita bertemu, juga dengan beberapa orang yang kita percayai, yang jelas aku tersenyum, tapi mereka tahu aku menangis…

Kuputuskan seminggu ini tanpa menulis… Tiada kata yang harus dituliskan… Karena besok adalah awal dari pembicaraan yang panjang…

Bukan kutidak ingin menguatkan-mu, tapi aku sendiri tidak yakin akan kesanggupanku… Jikalau engkau memiliki cukup asa untuk menahan semua, asaku sudah habis ditelan oleh waktu… Biar alam panggil aku seorang pecundang, namun apa gunanya bertahan saat seluruh dunia melawan?

Bisakah kita berpikir jernih sebentar? Dan melepaskan semua asa dan rasa?

Mungkinkah ada rasa bahagia saat yang lain menderita?

… ah, mungkin saat ini yang ada dipikiranku hanyalah menyerah! Bukan hanya karena suara gaduh diluar tetapi juga suara hati yang perlahan-lahan padam…





Day 23 : Hari yang melelahkan II

21 10 2008

Selasa, 21 Oktober 2008

Pagi ini kulalui dengan berpontang-panting, jalan kesana kemari… menghantar ibunda tercinta… melalui waktu demi waktu… akh terus berdoa dalam hati… TUHAN tolonglah ibunda tercinta untuk dapat melewati cobaan-cobaan ini… 2 hari ini begitu akrab dengan rumah sakit… bahkan sepulang kerja pun masih menyempatkan diri untuk bertanya ke dokter…

Hari ini lelah skali dengan kondisi badan yang tidak bugar… namun masih memaksakan untuk mengejar perasaan yang tersimpan dalam komitmen…

Malam ini ibunda tercinta mengingatkan kembali… Jikalau itu adalah keputusan yang kau ambil, engkau harus siap dengan semua resikonya… jangan sampai suatu saat ada yang tersakiti dan akhirnya engkau malah melampiaskan amarahmu, kekesalanmu kepada pasangan yang kau pilih… Ini bukan jalan aman… engkau harus siap…

Kucoba yakini sekali lagi diriku, dan perasaanku…

namun rupanya kantuk dan lelah terus menyerang diriku… ku menulis tapi sukar untuk berpikir lebih keras… kuputuskan kuakhiri tulisan ini… dan kuucapkan selamat malam…





Day 22 : Paniks

20 10 2008

Senin, 20 Oktober 2008

Panik, hari ini panik… setelah kudengar kabar tentang ibunda maka paniklah aku… segera kuhampiri kendaraanku yang membawaku pulang ke rumah, untuk menghantar ibunda menuju ke tempat berobat… setelah melewati malam yang panjang aku begitu lelah… sampai-sampai aku tidak mampu lagi untuk menyempatkan diriku untuk menulis… aku lelah… tapi diantara kelelahan itu aku bermimpi tentang kamu dan dia… kita duduk dalam satu meja dan kuperkenalkan kamu kepada dia… entah apa yang kukatakan dan apa yang kalian bicarakan namun kulihat kamu begitu ceria… akh aku tidak tahu apakah ini bunga tidur? Tapi mengapa harus kita bertiga dalam satu meja? Ehm… tentunya bukan poligami… tapi kamu tampak begitu cantik… semoga ini adalah pertanda bagus untuk apa yang kamu dan aku perjuangkan… meskipun bukan tanda yang kita cari… tapi keteguhan dalam hati…

Mohon didoakan untuk ibunda tercinta





Day 21 : Menangis

19 10 2008

Minggu, 19 Oktober 2008

Hi sayang, hari minggu ini kulalui dengan kelu dalam bibir… ingin rasanya terus menulis dalam tangis… tapi kurasakan harus berhenti dan mengarahkan pandanganku terhadap hal-hal didepanku.

Hari ini aku diminta untuk share tentang pelipatgandaan, juga tentang misi… namun ternyata yang terdengar adalah hal-hal yang sama yang pernah aku alami… dan kubagikanlah bibit pemberontakan… namun satu hal yang kupesankan kepada orang-orang yang aku share… ingat bahwa kita bekerja dengan orang-orang yang tidak sempurna…

Sorenya selepas kegiatan tersebut, aku dihampiri oleh ibunda tercinta… dia memberi kabar sukacita namun disertai dengan beberapa peringatan… rupanya ayahanda luruh oleh kekerasan hatiku… namun seperti biasa pula ditambah-tambahkannya beberapa syarat…

Aku berdoa semoga kita bisa melalui syarat itu… semakin bertanya, apakah cintamu cukup kuat untuk melewati semua itu? Kubiarkan bibirku kelu tak menjawab, biarkan waktu yang menjawabnya

Terima kasih TUHAN untuk setiap waktu yang kauberikan…

amen





Day 20 : Antara cinta dan berbakti

18 10 2008

Sabtu, 18 Oktober 2008

Hari ini akhirnya aku bertemu kamu, maafkan aku kalau aku bertemu dalam amarah yang meluap-luap… aku merasa sepi, aku merasa sendiri… kuberanikan diri untuk mengajak kamu pergi bersama menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat. Maafkan aku didalam pesta itu aku begitu senangnya, sampai-sampai aku meninggalkan kamu… dan membuatmu sekali lagi berlinang air mata… (Aku tuliskan semua ini dengan mata berkaca-kaca…). Bukan maksud aku untuk membuat kamu sedih, bukan maksud aku membuat kamu takut, karena kesedihan dan ketakutan menguasai aku… Betapa aku terbawa dalam emosi yang tidak bertuan… oh TUHAN tolonglah pikiranku, supaya aku tidak melenceng dari jalanMu…

Sepulang dari sana, kita bercanda bersama, oh alangkah rindunya aku, membicarakan hal-hal yang tidak penting dan bersenda gurau, oh alangkah hatiku tersirami, dalam pertemuan tanpa topeng hanya menjadi kamu dan aku sebagaimana adanya… dalam canda dan sikap masing-masing… dalam tangisan dan tertawa… dalam satu ruang dan waktu…

Oh seandainya bisa kuhentikan ruang dan waktu! Bukan keinginan aku untuk segera meninggalkanmu, tapi ini harus kulakukan demi kata berbakti untuk tujuan-tujuan jangka panjang… aku tahu hari ini seharusnya aku tidak boleh memelukmu, membelai rambutmu karena hal ini akan menimbulkan sebuah asa tanpa pengharapan… tapi hatiku berontak, keinginan terdalamku melonjak… aku hanya ingin memelukmu dan diam dalam waktu bersamamu…

Sepulang dari sana, kembali aku bertemu dengan ayahanda tercinta… Ayahanda menuliskan sebuah pepatah cina di atas kertas karton yang lusuh bertuliskan nama dinda dan ayahanda… sebuah pepatah kuno yang menyatakan, “tidak berbakti kepada orang tua akan ada 3 hukuman dan yang terberat adalah… tidak mempunyai keturunan”… hatiku remuk, bukankah itu seperti sebuah kutukan! Bagaimana mungkin seorang ayahanda tega menuliskan hal itu… kalo tidak dikarenakan cintanya yang besar yang melebihi ekspektasi terhadap saya… saya yakin ayahanda tidak akan menuliskan kata-kata yang sedemikian keras!

Hatiku limpung seketika, pikiranku mengarah keangan-angan, sepertinya tubuh ini meninggalkan jiwa… tapi pikiranku segera melawan dan berkata, apakah yang dimaksud berbakti, bukankah jikalau aku bersama kamu pasti kita akan berusaha berbakti dan menyakinkan ayahanda bahwa kita adalah pasangan yang menghormati dan mengasihi orang tua… kemudian kutinggalkan ruang sambil mengucapkan terima kasih. Dan kuterima kutuk itu dalam bingkai di hati… oh TUHAN, tolong aku supaya aku bisa membuktikan kepada ayahanda

Tiba-tiba ayahanda kembali memanggil, kali ini adalah penjelasan yang panjang mengenai keturunan, bahwa keturunan yang dimaksud adalah keturunan pria! Tiba-tiba saya merasa seperti kembali ke jaman dahulu kala, dimana adat begitu kuat akan keturunan laki-laki… rupanya sang ayahanda sedang bertindak sebagai TUHAN, dimana menuruti kemauan dia berarti sama dengan memiliki keturunan laki-laki… aku kadangkala bingung, dimanakah keturunan cucu laki-laki yang ayahanda inginkan? Mengapa TUHAN belum mengijinkan adanya keturunan laki-laki… jika ukuran sebuah keturunan laki-laki adalah berbakti kepada orangtua dan TUHAN… maka takutlah aku, karena aku rasa akulah yang paling berdosa diantara semua saudara! Dan hanya TUHAN yang tahu sikap bertopengku!

Aku tahu kamu pasti akan mengatakan bahwa keturunan bukanlah tujuan pernikahan! Itu aku aminkan dan aku ya-kan! Tapi bagaimana bisa merubah sikap orang tua! Bagaimana jikalau semua tindakanmu dianggap sebagai tidak berbakti! Adakah gunanya seorang hidup jikalau ia tidak berbakti kepada orang tuanya! Mengapa tiba-tiba semuanya itu seperti ditimpakan kepadaku…. Hilang saja semua asaku!

“Hanya jika engkau mengasihi aku dan berbakti kepadaku, pikirkanlah semuanya itu!”, begitu ucap ayahanda yang tercinta! Bukankah selama ini aku sudah mencoba berbakti dan mendengarkan semua saranmu! Bukankah kata-katamu sendiri yang mengatakan untuk berdiri diatas kebenaran dan keadilan! Dan jika benar tidak perlu merasa takut!

@#$#$&^$! Semuanya itu aku dengarkan maka aku berani berkata-kata kepada setiap orang! Termasuk engkau ayahanda! Prinsip itu yang aku pegang, maka semua aku lawan jikalau itu tidak sesuai dengan kebenaran dan kata hati! Tapi ketika engkau mengatakan jika engkau mengasihi aku dan berbakti kepadaku… maka hancurlah hatiku… aku rasa aku tidak tahan lagi untuk tidak menangis… maka kutinggalkan ayahanda dan berkata aku tidur…

tapi malam ini aku tidak segera tidur, pikiranku bergerak liar dalam waktu yang cukup sempit… kamu tahu, aku seperti berhadapan dengan tembok tinggi yang besar! Tiba-tiba aku teringat pertemuan kita barusan, aku melihat kamu menghitung hari-hari yang tersisa dengan penuh asa… namun bagaimana jikalau asa itu adalah ketiadaan pengharapan… oh, aku menangis, karena itu artinya aku akan menghancurkan hatimu… Ingin segera kutinggalkan raga ini dan berlari-lari untuk memelukmu untuk menangis di pangkuanmu… aku lari keluar dalam ketidakberdayaan… Mengapa semua terasa begitu menjepit…

Ingin kukembalikan ragaku kepada ayahanda tercinta… mungkinkah cinta ini artinya memisahkan raga… aku tidak ingin bertindak bodoh tapi malam ini pikiranku begitu meracau dan lari kesana kemari! Seribu adegan percintaan bagaikan sebuah gambar-gambar yang terus melintasi dipikiranku… aku seperti romeo yang menangis, sampek yang bodoh yang terjabak didalam aturan-aturan kaku atas nama cinta dan berbakti… mungkin aku tidak seberani mereka, mungkin aku tidak sekeras mereka… aku hanyalah pria tanpa pengharapan… dan saat ini aku hanya bisa menangis…

Aku kehilangan asa, mungkinkah dapat kita lalui semua ini tanpa membuat engkau menangis… kamu yang mendengar gelegar amarahku sudah menangis… kamu yang aku sedikit tinggalkan saja sudah begitu rapuh… kamu tahu aku paling benci ketika melihat wanita menangis, kebencian yang bukan karena kamu tidak berdaya, tapi benci karena ketidakberdayaan aku untuk membuat engkau tidak menangis… seumur hidup aku telah melihat berkali-kali ibunda yang kukasihi menangis, aku tidak mau hal itu terulang dalam kehidupan kita…

Oh hidup yang tanpa asa… Oh TUHAN jangan biarkan pikiran liarku ini menguasaiku… kutatap esok hari tanpa harapan… dan kuterdiam dan terbaring…