Terlanjur Cinta

24 02 2009

Waktu bergulir lambat
Merantai langkah perjalanan kita
Berjuta cerita terukir dalam
Menjadi sebuah dilema

Mengertikah engkau
Perasaanku tak terhapuskan

Malam menangis
Tetes embun membasahi mata hatiku
Mencoba bertahan di atas puing-puing
Cinta yang telah rapuh

Apa yang kugenggam
Tak mudah untuk aku lepaskan

Aku terlanjur cinta kepadamu
Dan telah kuberikan seluruh hatiku
Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan
Cintaku

Akupun tak mengerti yang terjadi
Apa salah dan kurangku padamu
Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan
Karena sekali cinta aku tetap cinta





Closing : akhir cerita cinta

29 10 2008

Jakarta, 29 Oktober 2009

Seharusnya ini adalah hari yang penting untuk kita berdua namun…

Pagi ini, ketika hujan masih mewarnai bumi, dan awan masih menyelimuti bumi… aku berjalan dalam rentang perjalanan yang terasa begitu panjang… suara disekelilingmu mengambil rupa suara hatiku…

Pagi ini, ketika akhirnya matahari mengintip di balik awan, menyirami bumi dan membuat gedung-gedung tinggi di kuningan saling menyapa melalui pantulan sinarnya yang terang…

… Pagi ini semua berjalan seperti biasa, hanya ketidakhadiran aku selama ini yang membuat moment-moment ini terasa begitu berbeda…

… mungkin ini adalah pagi yang khusus, ditengah hati yang perlahan-lahan mendingin …

… 30 hari sudah kulewati, dalam doa, tangisan dan syukur…

… kusadari ini bukanlah keputusan yang mudah yang harus kuambil …

… setelah melantunkan banyak doa, mendengarkan banyak masukan …

… setelah berjuang untuk menyakinkan untuk menemukan kedamaian di hati…

… setelah mendengarkan dunia berkata dan menyaksikan matinya asa di hati …

Maka selalu akan ada akhir dari sebuah cerita…

… mari kita pikirkan hal ini secara jernih…

… Ini yang aku lamunkan…

Tentang aku dan bukan tentang kita …

… rasa Cinta itu saja tidak cukup …

… tertutupi hatiku oleh perasaan bersalah …

… pernikahan bukanlah sesuatu hal yang mudah …

… pernikahan mempersatukan dua keluarga yang berbeda …

… dan hal inilah menjadi salah satu dasar penting yang aku pegang…

… setidaknya begitulah aku menyakinkannya …

… kuputuskan untuk tidak membawa engkau ke dalam mimpi-mimpiku…

… bukan karena aku tidak ingin memilikimu …

… hanya tidak semua dapat kita menangkan …

… satu hal yang kulempar jauh …

… dan itulah rasa egoku …

Tak kutanyakan lagi apakah kita mampu melaluinya …

… karena bukan hanya kita berdua yang akan mengalami pedih di hati …

… jika ada sesuatu yang harus disayangkan …

… maka sayangkanlah aku pernah mencintaimu …

Kuambil satu pilihan pahit dalam hidupku…

… yang pasti ini menyakiti engkau dan aku…

… pilihan ini bagaikan obat kanker yang menusuk tulang …

… disatu sisi dia membunuh banyak hal …

… disisi lain dia juga memberikan pengharapan …

Dan pengharapan inilah yang aku ambil

… biarkan ini mematikan perasaan kita …

… walaupun hati ini tak ingin …

… namun di sisi lain…

… biarlah hal ini membawa engkau dan aku…

… kepada pengharapan lain…

Untuk melihat dunia dengan mata yang berbeda

Untuk belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu

Untuk menatap masa depan dengan harapan yang baru

… Perih di hati …

Biarkanlah luka ini sembuh dengan berlalunya waktu…

Jangan kau lupakan aku…

Tapi jadikanlah aku pelajaran…

Tentang kebodohan orang yang tidak mau memperjuangkan cinta…

Terhadap orang-orang seperti aku, tidaklah layak ia mendapatkan cinta sejati sepertimu…

Tiada makan malam yang tidak akan berakhir…

Dan cerita ini pula akan menemukan akhir…

… Selamat jalan cinta …

… kuhanya bisa mencintaimu tanpa bisa memilikimu …

… dan doaku adalah agar engkau bisa melaluinya …

… hanya satu hal yang kutahu …

… cinta bisa mengambil begitu banyak rupa …

… tapi cinta sejati tidak akan pernah mati …

… ia hanya belajar menerima untuk mengambil bentuk lain dari mencintai …

… teruntuk untukmu, dalam tangisan dan air mata…

… TUHAN tolonglah kami masing-masing melangkah…

… amen…





Day 24 – 30 : Hari-hari tanpa menulis

28 10 2008

Jakarta, 28 Oktober 2008

Seminggu ini benar-benar sepi, pertemuan terakhir kita terasa begitu hambar… aku masih melihat api itu menyala di matamu yang penuh harap. Tetapi rupanya suara gaduh dunia membuatmu tertepiskan dari pikiranku…

Dalam satu kesempatan kita bertemu, juga dengan beberapa orang yang kita percayai, yang jelas aku tersenyum, tapi mereka tahu aku menangis…

Kuputuskan seminggu ini tanpa menulis… Tiada kata yang harus dituliskan… Karena besok adalah awal dari pembicaraan yang panjang…

Bukan kutidak ingin menguatkan-mu, tapi aku sendiri tidak yakin akan kesanggupanku… Jikalau engkau memiliki cukup asa untuk menahan semua, asaku sudah habis ditelan oleh waktu… Biar alam panggil aku seorang pecundang, namun apa gunanya bertahan saat seluruh dunia melawan?

Bisakah kita berpikir jernih sebentar? Dan melepaskan semua asa dan rasa?

Mungkinkah ada rasa bahagia saat yang lain menderita?

… ah, mungkin saat ini yang ada dipikiranku hanyalah menyerah! Bukan hanya karena suara gaduh diluar tetapi juga suara hati yang perlahan-lahan padam…





Day 23 : Hari yang melelahkan II

21 10 2008

Selasa, 21 Oktober 2008

Pagi ini kulalui dengan berpontang-panting, jalan kesana kemari… menghantar ibunda tercinta… melalui waktu demi waktu… akh terus berdoa dalam hati… TUHAN tolonglah ibunda tercinta untuk dapat melewati cobaan-cobaan ini… 2 hari ini begitu akrab dengan rumah sakit… bahkan sepulang kerja pun masih menyempatkan diri untuk bertanya ke dokter…

Hari ini lelah skali dengan kondisi badan yang tidak bugar… namun masih memaksakan untuk mengejar perasaan yang tersimpan dalam komitmen…

Malam ini ibunda tercinta mengingatkan kembali… Jikalau itu adalah keputusan yang kau ambil, engkau harus siap dengan semua resikonya… jangan sampai suatu saat ada yang tersakiti dan akhirnya engkau malah melampiaskan amarahmu, kekesalanmu kepada pasangan yang kau pilih… Ini bukan jalan aman… engkau harus siap…

Kucoba yakini sekali lagi diriku, dan perasaanku…

namun rupanya kantuk dan lelah terus menyerang diriku… ku menulis tapi sukar untuk berpikir lebih keras… kuputuskan kuakhiri tulisan ini… dan kuucapkan selamat malam…





Day 22 : Paniks

20 10 2008

Senin, 20 Oktober 2008

Panik, hari ini panik… setelah kudengar kabar tentang ibunda maka paniklah aku… segera kuhampiri kendaraanku yang membawaku pulang ke rumah, untuk menghantar ibunda menuju ke tempat berobat… setelah melewati malam yang panjang aku begitu lelah… sampai-sampai aku tidak mampu lagi untuk menyempatkan diriku untuk menulis… aku lelah… tapi diantara kelelahan itu aku bermimpi tentang kamu dan dia… kita duduk dalam satu meja dan kuperkenalkan kamu kepada dia… entah apa yang kukatakan dan apa yang kalian bicarakan namun kulihat kamu begitu ceria… akh aku tidak tahu apakah ini bunga tidur? Tapi mengapa harus kita bertiga dalam satu meja? Ehm… tentunya bukan poligami… tapi kamu tampak begitu cantik… semoga ini adalah pertanda bagus untuk apa yang kamu dan aku perjuangkan… meskipun bukan tanda yang kita cari… tapi keteguhan dalam hati…

Mohon didoakan untuk ibunda tercinta





Day 21 : Menangis

19 10 2008

Minggu, 19 Oktober 2008

Hi sayang, hari minggu ini kulalui dengan kelu dalam bibir… ingin rasanya terus menulis dalam tangis… tapi kurasakan harus berhenti dan mengarahkan pandanganku terhadap hal-hal didepanku.

Hari ini aku diminta untuk share tentang pelipatgandaan, juga tentang misi… namun ternyata yang terdengar adalah hal-hal yang sama yang pernah aku alami… dan kubagikanlah bibit pemberontakan… namun satu hal yang kupesankan kepada orang-orang yang aku share… ingat bahwa kita bekerja dengan orang-orang yang tidak sempurna…

Sorenya selepas kegiatan tersebut, aku dihampiri oleh ibunda tercinta… dia memberi kabar sukacita namun disertai dengan beberapa peringatan… rupanya ayahanda luruh oleh kekerasan hatiku… namun seperti biasa pula ditambah-tambahkannya beberapa syarat…

Aku berdoa semoga kita bisa melalui syarat itu… semakin bertanya, apakah cintamu cukup kuat untuk melewati semua itu? Kubiarkan bibirku kelu tak menjawab, biarkan waktu yang menjawabnya

Terima kasih TUHAN untuk setiap waktu yang kauberikan…

amen





Day 20 : Antara cinta dan berbakti

18 10 2008

Sabtu, 18 Oktober 2008

Hari ini akhirnya aku bertemu kamu, maafkan aku kalau aku bertemu dalam amarah yang meluap-luap… aku merasa sepi, aku merasa sendiri… kuberanikan diri untuk mengajak kamu pergi bersama menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat. Maafkan aku didalam pesta itu aku begitu senangnya, sampai-sampai aku meninggalkan kamu… dan membuatmu sekali lagi berlinang air mata… (Aku tuliskan semua ini dengan mata berkaca-kaca…). Bukan maksud aku untuk membuat kamu sedih, bukan maksud aku membuat kamu takut, karena kesedihan dan ketakutan menguasai aku… Betapa aku terbawa dalam emosi yang tidak bertuan… oh TUHAN tolonglah pikiranku, supaya aku tidak melenceng dari jalanMu…

Sepulang dari sana, kita bercanda bersama, oh alangkah rindunya aku, membicarakan hal-hal yang tidak penting dan bersenda gurau, oh alangkah hatiku tersirami, dalam pertemuan tanpa topeng hanya menjadi kamu dan aku sebagaimana adanya… dalam canda dan sikap masing-masing… dalam tangisan dan tertawa… dalam satu ruang dan waktu…

Oh seandainya bisa kuhentikan ruang dan waktu! Bukan keinginan aku untuk segera meninggalkanmu, tapi ini harus kulakukan demi kata berbakti untuk tujuan-tujuan jangka panjang… aku tahu hari ini seharusnya aku tidak boleh memelukmu, membelai rambutmu karena hal ini akan menimbulkan sebuah asa tanpa pengharapan… tapi hatiku berontak, keinginan terdalamku melonjak… aku hanya ingin memelukmu dan diam dalam waktu bersamamu…

Sepulang dari sana, kembali aku bertemu dengan ayahanda tercinta… Ayahanda menuliskan sebuah pepatah cina di atas kertas karton yang lusuh bertuliskan nama dinda dan ayahanda… sebuah pepatah kuno yang menyatakan, “tidak berbakti kepada orang tua akan ada 3 hukuman dan yang terberat adalah… tidak mempunyai keturunan”… hatiku remuk, bukankah itu seperti sebuah kutukan! Bagaimana mungkin seorang ayahanda tega menuliskan hal itu… kalo tidak dikarenakan cintanya yang besar yang melebihi ekspektasi terhadap saya… saya yakin ayahanda tidak akan menuliskan kata-kata yang sedemikian keras!

Hatiku limpung seketika, pikiranku mengarah keangan-angan, sepertinya tubuh ini meninggalkan jiwa… tapi pikiranku segera melawan dan berkata, apakah yang dimaksud berbakti, bukankah jikalau aku bersama kamu pasti kita akan berusaha berbakti dan menyakinkan ayahanda bahwa kita adalah pasangan yang menghormati dan mengasihi orang tua… kemudian kutinggalkan ruang sambil mengucapkan terima kasih. Dan kuterima kutuk itu dalam bingkai di hati… oh TUHAN, tolong aku supaya aku bisa membuktikan kepada ayahanda

Tiba-tiba ayahanda kembali memanggil, kali ini adalah penjelasan yang panjang mengenai keturunan, bahwa keturunan yang dimaksud adalah keturunan pria! Tiba-tiba saya merasa seperti kembali ke jaman dahulu kala, dimana adat begitu kuat akan keturunan laki-laki… rupanya sang ayahanda sedang bertindak sebagai TUHAN, dimana menuruti kemauan dia berarti sama dengan memiliki keturunan laki-laki… aku kadangkala bingung, dimanakah keturunan cucu laki-laki yang ayahanda inginkan? Mengapa TUHAN belum mengijinkan adanya keturunan laki-laki… jika ukuran sebuah keturunan laki-laki adalah berbakti kepada orangtua dan TUHAN… maka takutlah aku, karena aku rasa akulah yang paling berdosa diantara semua saudara! Dan hanya TUHAN yang tahu sikap bertopengku!

Aku tahu kamu pasti akan mengatakan bahwa keturunan bukanlah tujuan pernikahan! Itu aku aminkan dan aku ya-kan! Tapi bagaimana bisa merubah sikap orang tua! Bagaimana jikalau semua tindakanmu dianggap sebagai tidak berbakti! Adakah gunanya seorang hidup jikalau ia tidak berbakti kepada orang tuanya! Mengapa tiba-tiba semuanya itu seperti ditimpakan kepadaku…. Hilang saja semua asaku!

“Hanya jika engkau mengasihi aku dan berbakti kepadaku, pikirkanlah semuanya itu!”, begitu ucap ayahanda yang tercinta! Bukankah selama ini aku sudah mencoba berbakti dan mendengarkan semua saranmu! Bukankah kata-katamu sendiri yang mengatakan untuk berdiri diatas kebenaran dan keadilan! Dan jika benar tidak perlu merasa takut!

@#$#$&^$! Semuanya itu aku dengarkan maka aku berani berkata-kata kepada setiap orang! Termasuk engkau ayahanda! Prinsip itu yang aku pegang, maka semua aku lawan jikalau itu tidak sesuai dengan kebenaran dan kata hati! Tapi ketika engkau mengatakan jika engkau mengasihi aku dan berbakti kepadaku… maka hancurlah hatiku… aku rasa aku tidak tahan lagi untuk tidak menangis… maka kutinggalkan ayahanda dan berkata aku tidur…

tapi malam ini aku tidak segera tidur, pikiranku bergerak liar dalam waktu yang cukup sempit… kamu tahu, aku seperti berhadapan dengan tembok tinggi yang besar! Tiba-tiba aku teringat pertemuan kita barusan, aku melihat kamu menghitung hari-hari yang tersisa dengan penuh asa… namun bagaimana jikalau asa itu adalah ketiadaan pengharapan… oh, aku menangis, karena itu artinya aku akan menghancurkan hatimu… Ingin segera kutinggalkan raga ini dan berlari-lari untuk memelukmu untuk menangis di pangkuanmu… aku lari keluar dalam ketidakberdayaan… Mengapa semua terasa begitu menjepit…

Ingin kukembalikan ragaku kepada ayahanda tercinta… mungkinkah cinta ini artinya memisahkan raga… aku tidak ingin bertindak bodoh tapi malam ini pikiranku begitu meracau dan lari kesana kemari! Seribu adegan percintaan bagaikan sebuah gambar-gambar yang terus melintasi dipikiranku… aku seperti romeo yang menangis, sampek yang bodoh yang terjabak didalam aturan-aturan kaku atas nama cinta dan berbakti… mungkin aku tidak seberani mereka, mungkin aku tidak sekeras mereka… aku hanyalah pria tanpa pengharapan… dan saat ini aku hanya bisa menangis…

Aku kehilangan asa, mungkinkah dapat kita lalui semua ini tanpa membuat engkau menangis… kamu yang mendengar gelegar amarahku sudah menangis… kamu yang aku sedikit tinggalkan saja sudah begitu rapuh… kamu tahu aku paling benci ketika melihat wanita menangis, kebencian yang bukan karena kamu tidak berdaya, tapi benci karena ketidakberdayaan aku untuk membuat engkau tidak menangis… seumur hidup aku telah melihat berkali-kali ibunda yang kukasihi menangis, aku tidak mau hal itu terulang dalam kehidupan kita…

Oh hidup yang tanpa asa… Oh TUHAN jangan biarkan pikiran liarku ini menguasaiku… kutatap esok hari tanpa harapan… dan kuterdiam dan terbaring…





Day 19 : Perselisihan yang Tajam

17 10 2008

Jumat, 17 Oktober 2008

Akhirnya kunyatakan isi hatiku, kukatakan kepada ayahanda mengenai hatiku… Semua terjadi pada Kamis malam, dan baru dapat kutumpahkan perasaanku pada hari ini… Sebuah diskusi setelah aku pulang cukup larut malam, disertai dengan kata-kata yang tersembunyi. Pada akhirnya semuanya menjadi jelas, setelah aku berkeras dan berkata, “Jadi maksud ayahanda apa?”… Bukankah semua syarat sudah bisa aku penuhi. Maka jelaslah semua bahwa ayahanda hanya tidak suka dan tidak mau aku bersama dia TITIK. Semuanya dipandang sebagai sesuatu diluar kehendaknya! Apakah ini yang disebut dengan kebebasan!?, apakah ini yang disebut dengan demokrasi?! Maka kukatakan dengan tegas! Aku hanya punya satu pergumulan dengan dia dan bukan yang lain! Dan jikalau semua resiko-resiko yang ayahanda sebutkan terjadi kepada keturunanku maka aku berkata bahwa ini adalah resiko yang aku ambil!

Rupanya aku terlalu keras! Dan memancing amarah ayahanda! Ayahanda akhirnya mengatakan kata-kata yang paling aku tidak suka! Disaat aku mengatakan ingin bersama dia dan memohon berkat ayahanda! Yang keluar adalah kata-kata kutuk… maka larilah aku dari kamar, dengan hati yang berurai… mata ini tidak bisa lagi berurai… hati ini hancur…

Hari ini aku banyak diskusi dengan adik tercinta, ditengah-tengah pekerjaan yang menumpuk… tapi diskusi ini harus jalan… semakin jelas dalam diskusi ini bahwa halangan-halangan yang kami terima begitu besar… kenapa semuanya terlihat kejam sekarang ini… hati ini sudah tidak tahan lagi… haruskah raga meninggalkan jiwa… atau hidup dalam raga tanpa jiwa?

Semua kata-kata yang pernah aku katakan kepada adikku berbalik kepadaku, bukankah aku pernah berkata apakah tidak salah sekali-kali mendengarkan ayahanda!?

Tapi bukankah ayahanda berkata untuk bertanggung jawab terhadap setiap tindakan! Dimana tanggung jawabku ketika aku mencampakkan orang yang aku cintai tanpa suatu alasan apapun!

Bukankah melihat hati yang hancur justru membawa kepada kehancuran pada diri! Hari ini ingin kupeluk dia… tapi aku tahu setiap kali aku memeluk dia, aku hanya meninggalkan asa tanpa pengharapan… inilah asa tanpa pengharapan… hatiku hancur, aku rasa aku hampir tidak bisa mendengar…





Day 18 : Artikel yang Tajam

16 10 2008

Jakarta, 16 Oktober 2008

Hari yang mendung, ditemani oleh matahari yang temaram dan tubuh yang lelah, yang entah bagaimana membawa kepada jiwa yang lelah… Setelah makan siang yang diperoleh adalah sebuah artikel yang sangat menarik… artikelnya sangat tajam… tentang menikah, jika engkau tertarik silakan klik link ini, menjawab artikel disana saya coba menuliskan bahwa menikah itu adalah anugerah yang harus dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari mandat Injil yaitu untuk beranak cucu dan memenuhi bumi dengan gambar dan rupa TUHAN. So pasti, tidak gampang… dan sebenarnya tidak harus menikah untuk bisa melakukan itu, banyak koq gambar dan rupa TUHAN yang rusak karena dosa di dunia ini namun dibiarkan tumbuh rusak karena manusia tidak mengajar anak-anak mereka tentang ketetapan-ketetapan TUHAN.

Lho koq jadi ngelantur…. tapi kata-kata yang bagus dan cukup menohok dari artikel itu adalah :

“Sesungguhnya karena tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Dia dan menikmati Dia, maka menikah atau tidak menikah juga tetap harus memuliakan Dia dan menikmati Dia. banyak buku yang saya baca tentang relationship atau pernikahan, mengatakan bahwa orang yang layak untuk menikah adalah orang yang bisa berbahagia, walaupun tidak menikah. Mengapa? karena orang yang seperti inilah yang berkelimpahan. Artinya kebahagiaannya bergantung pada Tuhan, bukan manusia. ketika dia menjalani sebuah relationship, dia tidak akan pernah menggantungkan kebahagiaannya pada pasangnya. Sedangkan orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada pasanagannya akan menyalahkan pasangannya jika dia tidak bahagia. pertanyaannya, kan kita ini manusia dan bukan Tuhan. mana mungkin bisa 100% membahagiakan pasangan kita? kalau begitu, kita sudah menuntut pasanagn kita sebagai Tuhan, ya.. ga mungkin dunk! Orang yang merasa kesepian sebelum menikah, setelah menikahpun tetap akan merasa kesepian. Mengapa? karena yang bisa mengusir rasa sepi itu hanyalah kedekatan kita dengan Tuhan.”

Kata-kata yang saya tampilkan dalam huruf bold sungguh mengganggu saya… belum lagi beberapa artikel yang menjelaskan tujuan pernikahan…

“Bagi yang mau memasuki pernikahan, gumulkan baik2 karena ini sekali seumur hidup. Apa memang TUhan menginginkan kamu untuk menikah? apakah Tuhan juga merestui hubungan kalian, alias, apakah Tuhan disenangkan dengan relasi kalian? Apakah hubungan kamu sehat dengan si dia? apakah kamu sudah siap secara rohani, mental dan materi? Apakah Tuhan dipermuliakan dalam relasi kalian? (Hm… ini bukan dari pengalaman pribadi, tapi dari kotbah yang sudah didengar)”

Sungguh, ini menjadi bahan renungan… sebenarnya tidak ada hubungan dengan dia, tetapi ini penting karena saya ingin segera masuk dalam pernikahan membangun keluarga yg mencintai TUHAN. Tapi sebelum semuanya ini terjawab, saya timbul lagi sebuah pertanyaan apakah saya orang yang berbahagia walaupun saya tidak menikah?





Day 17 : Hari ini mengenai belajar…

15 10 2008

Jakarta, 15 Oktober 2008-10-15

Deuteronomy 31:9-13 (New International Version)

The Reading of the Law

“9 So Moses wrote down this law and gave it to the priests, the sons of Levi, who carried the ark of the covenant of the LORD, and to all the elders of Israel. 10 Then Moses commanded them: “At the end of every seven years, in the year for canceling debts, during the Feast of Tabernacles, 11 when all Israel comes to appear before the LORD your God at the place he will choose, you shall read this law before them in their hearing. 12 Assemble the people—men, women and children, and the aliens living in your towns—so they can listen and learn to fear the LORD your God and follow carefully all the words of this law. 13 Their children, who do not know this law, must hear it and learn to fear the LORD your God as long as you live in the land you are crossing the Jordan to possess.”

Percakapan pagi hari ini dengan TUHAN (melalui FirmanNya), justru membawa kata mengenai BELAJAR! Yang saya renungkan adalah TERNYATA rasa TAKUT akan TUHAN bukanlah sesuatu yang GIVEN, alias langsung diberikan! Saya seringkali berusaha untuk mencobai TUHAN dengan mengutip ayat yang mengatakan Siapa yang Lahir dari ALLAH, dia tidak akan dapat terus menerus berbuat Dosa! Sehingga saya seringkali mencobai perasaan saya (yang setiap berbuat dosa pasti ada rasa gelisah!), yang saya anggap sebagai hadiah langsung dari TUHAN. Alhasil sering kebobolanlah saya dalam dosa!

Tapi hari ini kata-kata dalam Firman TUHAN sungguh menusuk saya! TUHAN justru mengatakan dengar Firman itu, dan BELAJAR takut akan TUHAN. Jadi bisa kenal TUHAN itu anugerah kepada orang percaya! Tapi untuk taat dan takut akan firman TUHAN, justru TUHAN minta untuk belajar!

Dan Belajar artinya berusaha, bersusah payah, menumbuhkan, tangisan, air mata, keriangan dalam bersamaan kemampuan menahan derita!

Oops, postingan hari ini bukan bermaksud untuk berkhotbah, tapi saya jadi teringat akan komitmen yang pernah kami buat dulu, yaitu belajar mencintai! Bisa mencintai adalah anugerah! Tapi untuk memiliki rasa cinta itu maka kami harus BELAJAR….

Dan Belajar artinya berusaha, bersusah payah, menumbuhkan, tangisan, air mata, keriangan dalam bersamaan kemampuan menahan derita! (sengaja saya ulang lagi!!!)

Tidak ada Cinta yang langsung besar, dan saya sadar cinta saya ini beda… mungkin orang lain FALL IN LOVE, dan yang namanya jatuh tidak pernah disengaja, just fall… tapi kasih kami berbeda, kami sepakat untuk “LEARN TO LOVE Day By Day” … dan mungkin itulah yang membuat saya sulit ketika ingin mengalami fase FALL IN LOVE, karena fase kami beda…

TUHAN, jikalau kami memutuskan untuk mengembalikan komitmen, biarlah saya bisa belajar mencintai hari demi hari melewati setiap permasalahan yang ada!

Pertanyaan saya, dalam sisa 13 hari ini, apa yang harus saya lakukan untuk belajar mencintainya…! God help, God Provibitus!